Announcements

 

Teologi harmoni menurut Perspektif Alkitab

Sebagai kontribusi bagi kerukunan antar umat beragama

 

Suardin Gaurifa

Dosen STT Pelita Kebenaran, Jl.Jamin Ginting no. 65, Km.11,5 Simpang selayang Medan, Sumatera Utara

Email: suardingaurifa@yahoo.co.id

 

 

ABSTRACT

Kerukunan antar umat beragama adalah bagian dari perjuangan yang membutuhkan komitmen serius untuk merajutnya pada konteks zaman ini. Kebutuhan terciptanya kerukunan antar umat beragama berimbang dengan desakan meningkatnya praktek-praktek intoleran yang berkembang di masyarakat. Kemajemukan adalah berita baik yang membutuhkan pemeliharaan komprehensif untuk eksistensinya. Kekristenan sebagai bagian dari masyarakat harus memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan kerukunan antar umat beragama secara biblika. Alkitab menyimpan banyak konsep-konsep dasar yang menjadi modal pengembangan keadaan rukun. Konsep-konsep tersebut adalah beracuan pada report hidup rukun, ketaatan terhadap perintah Allah dan pengharapan pada hidup yang penuh damai sejahtera.

 

Kata Kunci: harmoni, kerukunan, umat beragama

 

  1. PENDAHULUAN

 

Kata “rukun” diterjemahkan dari kata harmonious yang menurut Webstar Dictionary mengartikannya sebagai adapted to each other; having apart propotioned to each other/ symetrycal.  Kata ini digunakan dalam menjelaskan keharmonisan dalam dunia musik, yang mana  bunyinya enak didengar.  Dipergunakan juga untuk menggambarkan kedamaian hubungan antar sesama, teman, keluarga dan masyarakat. Kata rukun dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti  (1) baik dan damai, tidak bertengkar dalam pertalian persahabatan (2) bersatu hati, bersepakat.  Sementara itu kerukunan berarti: (1) perihal hidup rukun (2) rasa rukun; kesepakatan.[1]

 

 

  1. PEMBAHASAN

 

B.1. Hukum Berkat Kerukunan

 

Pepatah umum mengatakan bahwa “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.” Secara sepintah mungkin pepatah ini tidak ada maknanya, tetapi kalau dicermati ternyata pepatah ini benar adanya.  Dengan kesatuan ada kekuatan, tetapi ketika ada perceraian, perpisahan, pertikaian maka yang dihasilkan adalah keruntuhan.  Sepintas dalam bagian sebelumnya sudah dibahas tentang berkat kalau hidup rukun, yaitu seperti minyak urapan dan embun (Mzm. 133:1-3).  Para penafsir menjelaskan gambaran ini sebagai berikut:

Pemahanan utama ialah, embun mengungkapkan kesegaran dan buah-buahannya (lih. Mzm. 110:3), tapi pengaitan gunung Hermon (di kerajaan utara) dengan Sion memberi petunjuk bahwa Allah memberikan karunia-Nya kepada umat-Nya apabila mereka berada dalam persekutuan. Turunnya embun Hermon ke atas Sion akan merupakan mujizat, dan persekutuan adalah mujizat anugerah ilahi (Ef. 2:11-22) dimana berkat pribadi saling dibagikan untuk keberuntungan bersama. Persekutuan demikian (3b) itulah yang Allah senang memberkatinya dan itu menjadi bukti pemilikan kehidupan untuk selama-lamanya (band. 1Yoh. 3:14).[2]

 

 

 

  1. KESIMPULAN

 

 

Kerukunan antar umat beragama adalah situasi yang harus dihadirkan bukan karena kebutuhan mendesak situasi bangsa, tetapi dasar dari kerukunan antar umat beragama merupakan bagian pokok dalam tatanan teologi Alkitab. Dengan sistematikan yang jelas Alkitab menandaskan perspektif kuat soal teologi kerukunan yang seharmoni dengan keinginan Allah Alkitab. Oleh karenanya usaha menciptakan kerukunan antar umat beragama adalah bagian dari panggilan kehidupan kekristenan.

 

Setiap orang percaya bertugas untuk menjadi duta pembawa kerukunan antar umat beragama sebagaimana Alkitab berbicara secara serius tentangnya. Bahwa teologi kerukunan adalah berorientasi pada berkat hidup bagi hidup yang rukun, kerukunan merupakan perintah bukan pilihan, secara rapi dimensi kerukunan dirumuskan yang diantaranya toleransi yang harus diciptakan antara satu dengan yang lain, membangun dialog yang positif serta menghadirkan warna baru dalam apologetika dengan elegan dan proporsional tanpa harus mendiskreditkan orang lain dalam kepercayaannya.

 

  1. REFERENSI

 

Bibleworks-[c\program files (x86)\bibleworks 8\init\bw800.swc].

 

Daghi, Benediktus. Diutus untuk Berdialog dalam buku Allah Akbar Allah Akrab. Maumere: Penerbit Ledalero, 2003

 

Donald Guthrie, Tafsiran Alkitab Masa Kini Jilid 2. Jakarta: YKBK/OMF, 1991

 

Donald Guthrie, Theologia Perjanjian Baru Jilid I. Jakarta: BPGK Gunung Mulia, 1993

 

  1. Sudarmanto, Teologi Multikultural. Batu: Departemen Multimedia YPPII, 2014

 

Hagelberg Dave. Tafsiran Roma (Bandung: Kalam Hidup, 2004

 

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasan, Kamus Besar Bahasa Indonesia Jakarta: Balai Pustaka, 1999.

 

Utomo, Bambang R. Reinterpretasi terhadap Orang-orang Kristen di dalam Al-Qurandalam Pandangan dan Sikap Muslim Santri di Indonesia pada Masa Orde Baru 1966-1998. Yogyakarta: SEAGST, 2000

 

Wiersbe, Warren W. Benar di dalam Kristus. Bandung: Kalam Hidup, 1997

 

William A. Miller, Puas, Lega dan Bahagia. Bandung: Kalam Hidup, 1996

 

 

 

[1]Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasan, Kamus Besar Bahasa Indonesia  (Jakarta: Balai Pustaka, 1999), 757.

[2]Donald Guthrie, Tafsiran Alkitab Masa Kini Jilid 2 (Jakarta: YKBK/OMF, 1991), 272.